https://drive.google.com/file/d/16aT7SA0NSMlxq9WNr4qiYRsOpGcrMn17/view?usp=drive_link
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBIJAKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Oleh:
Parid Barkah Amaruloh, S.Pd
Calon Guru Penggerak Angkatan 10
Kabupaten Garut
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
SALAM GURU PENGGERAK
BERGERAK, TERGERAK, MENGGERAKAN
Pendidikan adalah
suatu proses yang sistematis dan terencana, bukan hanya
sekedar mengajarkan murid tentang teori/materi/konten namun bagaimana semua itu masuk kedalam
kalbu alam pikir mereka sehingga
semua akan berdampak pada
perilaku dan karakter karena manusia beradab lebih baik dari
orang berilmu. Ilmu yang baik dilandasi oleh
karakter baik
sehingga murid dapat menjalankan
kehidupan dengan bahagia
dan keselamatan setinggi-
tingginya.
Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan utama bagi murid-muridnya, dengan keteladanan
perkataan maupun tindakan semua
tercermin dalam kesehariannya. Menjadi pendidik berarti kita
siap
menjadi role model
semua nilai kebajikan bagi peserta didik dan
seluruh warga sekolah
bahkan di lingkungan
kita tinggal.
Kita sebagai pendidik harus mampu berkontribusi bagi peserta didik setiap
keputusan yang kita
ambil harus berpihak kepada
murid dengan dilandasi nilai-nilai kebajikan. Pendidik
berkewajiban untuk menyampaikan
kebenaran
dan keteladanan.
Memahami kalimat bijak tersebut Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa
dengan penguatan karakter, norma -norma
sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai
moral,
kebajikan
dan
kebenaran untuk
menjalankan kehidupannya.
Generasi yang akan datang adalah
cerminan pendidikan saat ini yang kita poles
seperti membuat maha karya terbaik yang akan
mewarnai negeri
ini di masa depan.
Sebelum saya membahas tugas Materi Antar Koneksi Izinkan
saya memperkenalkan diri, saya
Parid Barkah A, S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari SD Negeri 2 Kutanagara, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Saya ucapkan terima kasih kepada Fasilitator saya yaitu Ibu Sri Mulyani dan Pengajar Praktik Ibu
Fadly
Firmansyah yang
selalu membimbing dan mengarahkan saya dalam mengikuti
Pendidikan Guru Penggerak ini.
Pada kesempatan ini membahas
tentang Tugas
Koneksi Antar Materi Modul
3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam Tugas ini
terdapat 10 pertanyaan yang akan
saya coba membahasnya
satu per satu.
1.
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Pendidikan adalah
upaya
untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Ki Hajar Dewantara menjabarkan bahwa
tujuan pendidikan terbagi menjadi tiga, yaitu :Membentuk budi didik yang halus
pada pekerti peserta, meningkatkan kecerdasan otak peserta didik, dan
mendapatkan
kesehatan badan
pada peserta didik.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka pendidikan harus memiliki kesatuan konsep yang jelas ada filosofi
Pratap
Triloka, meliputi :
a. Ing Ngarsa Sung Tuladha: sebagai guru atau pendidik harus bisa menjadi teladan
untuk
semua peserta didik.
b.
Ing Madya Mangun Karsa:
pendidik mampu menciptakan ide bagi
peserta didik. c. Tut
Wuri Handayani: pendidik harus mampu memberikan motivasi dan arahan
untuk
peserta didik.
Guru sebagai pamong yang tugasnya hanya menuntun
murid dalam mencapai kebebasanya tentu menemukan kemerdekaannya dalam belajar sehingga akan berdampak pada
pengambilan
keputusan yang tepat. Maka dari itu
guru
harus mampu mengambil
keputusan yang berpihak pada murid serta bijaksana dan dapat dipertanggungjawabkan.. Berdasarkan hal tersebut guru
sebagai pemimpin pembelajaran sudah seyogyanya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan.
2.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip prinsip yang kita
ambil dalam
pengambilan suatu
keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita seperti mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, serta berpihak pada murid, ini sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan. Dalam pengambilan
suatu keputusan diperlukan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Nilai Mandiri, ketika
kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita bertindak dalam waktu yang tidak terlalu panjang, dadakan. Nilai Reflektif,
ketika
kita dihadapkan pada sebuah kasus yang
harus kita cermati lebih dalam
apa yang akan terjadi
jika keputusan ini diambil? Dan
apa
pula yang akan terjadi jika keputusan itu diambil? Nilai
Inovatif, ketika kita dihadapkan pada
sebuah kasus yang mengharuskan kita
jeli, lihai, mahir dalam mengambil suatu keputusan.
Nilai Kolaboratif, ketika kita dihadapkan
pada sebuah kasus yang
perlu pertimbangan orang
banyak. Bisa kepala sekolah,
rekan
sejawat, atau
pihak terkait lainnya. Berpihak pada murid, tentunya
keputusan yang akan diambil
keputusan yang berpihak pada murid
agar tidak ada yang
dirugikan.
Berikut ini merupakan contoh nilai-nilai yang berpengaruh
terhadapat prinsip. ketiga
prinsip ini seringkali membantu dalam menghadapi pilihan- pilihan yang
penuh
tantangan, yang harus kita
hadapi sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga
prinsip tersebut adalah: Berpikir
Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based
Thinking).
3.
Bagaimana kegiatan
terbimbing yang kita lakukan pada
materi pengambilan keputusan berkaitan
dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan
proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-
pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh
sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2
sebelumnya?
Coaching menjadi salah satu
proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam
pembelajaran di sekolah. Coaching
menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah
agar
murid dapat mengeksplorasi diri guna
mencapai tujuan pembelajaran dan
memaksimalkan potensinya. Proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. Dengan
proses coaching murid
dapat menemukan
potensi dan mengembangkannya.
Coaching yang sudah dilakukan pada modul
2 sebelumnya jika
ditinjau dari coach menggali informasi dari coachee kemudian coachee
menemukan solusi dari masalahnya
sendiri sudah maksimal dilakukan.
Namun, belum memuat 3 prinsip, 4 paradigma, dan
9 langkah pengambilan keputusan. Akan tetapi pada sesi coaching seorang coachee
sudah mampu menggali potensinya.
Coaching adalah
keterampilan yang
sangat penting dalam
menggali suatu masalah
yang
sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain.
Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa
yang
sebenarnya terjadi
dan membuat pemecahan masalah
secara sistematis. Konsep
coaching
TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep
pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah
membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah
keputusan tersebut sudah berpihak kepada
murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.
TIRTA
merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka
belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk
memiliki keterampilan mengingat tujuan coaching,
yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan
dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini.TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW
adalah akronim
dari Goal, Reality, Options dan
Will.
4.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial
emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema
etika?
Ketika guru dihadapkan pada sebuah situasi, guru diharuskan mengambil sebuah keputusan sementara
kondisi sosial emosionalnya tidak dalam kondisi baik. Guru perlu melakukan Latihan Kesadaran Penuh (mindfullness) menggunakan teknik STOP dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dibahas pada modul sebelumnya. Lakukan
berulang agar kondisi guru kembali dalam keadaan baik. Jika hal tersebut sudah dilakukan,
tentu saja guru mampu mengambil sebuah
keputusan yang tepat.
Selain
teknik di atas dalam melaksanakan proses Pendidikan, pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar
muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran. Dalam proses
pengambilan keputusan
yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self
awareness), pengelolaan diri (self
management),
kesadaran
sosial (social awareness)
dan
ketrampilan berhubungan
sosial
(relationship skills).
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang
fokus
pada masalah moral atau
etika
kembali kepada nilai-nilai yang
dianut seorang pendidik?
Seorang
pendidik harus bisa mengetahui
persoalan yang dihadapi dan juga bisa membedakan apakah permasalahan yang dihadapi merupakan bujukan
moral atau dilema
etika. Sebagai pendidik harus
bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai yang dianut yaitu nilai mandiri, nilai reflektif,
nilai kolaboratif, nilai inovatif, dan berpihak pada murid. Kehadiran kelima nilai ini dalam diri pendidik
sebagai bahan evaluasi dalam mengambil
sebuah keputusan. Kita
juga harus bisa mengidentifikasi masalah sebelum mengambil
keputusan dengan
cara harus
menilainya dengan
lebih
saksama sehingga keputusan yang
kita
ambil sudah tepat.
6.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya
berdampak
pada
terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan keputusan yang tepat tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan ada perubahan yang mendasar dan upaya
yang konsisten. Dengan demikian
pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan
murid. Sebagai pemimpin pembelajaran menjadi inisiator
dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Dalam mewujudkan budaya positif ini pendidik memegang peranan sentral. Pendidik
perlu mengambil keputusan
yang tepat untuk mewujudkan
budaya positif baik di lingkungan kelas maupu disekolah. Keputusan
yang diambil untuk membangun budaya positif di sekolah dengan menyusun
kesepakatan
kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu pembentukan budaya positif kelas.
Hal
ini dapat membantu proses pembelajaran lebih mudah dan tidak menekan. Dengan demikian akan tercipta lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan
nyaman, dan menyenangkan bagi murid.
7.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya
dengan perubahan paradigma di
lingkungan Anda?
Dalam kehidupan
sehari-hari kita pastinya pernah dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita untuk mengambil suatu keputusan yang tepat apakah situasi dilema etika
atau bujukan moral? Ada kesulitan yang dihadapi dalam mengambil suatu keputusan
misalnya rasa khawatir akan keputusan yang diambil apakah sudah tepat atau keliru dalam
pengambilan suatu keputusan?
Rasa ragu akan penyesalan juga dirasakan ketika
keputusan sudah diambil. Maka, sangat penting bagi kita
untuk bisa mengidentifikasi pengujian
paradigma benar
lawan
benar, terdapat 4
paradigma:
a. Individu lawan masyarakat
(individual vs community)
b. Rasa keadilan
lawan
rasa kasihan
(justice vs mercy)
c. Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty)
d. Jangka pendek vs jangka panjang
(short term vs long term)
Kesulitan-kesulitan yang dialami di
lingkungan saya dalam mengambil keputusan adalah kesulitan /kendala yang bersumber pada pengambil keputusan, di mana dalam mengambil keputusan tidak melibatkan guru atau warga
sekolah lainnya, sering terjadi perbedaan pandangan di antara
pihak-pihak
yang terlibat dalam kasus yang mempersulit tercapainya
kesepakatan,
dan sering dalam pengambilan keputusan tersebut.
8.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang
tepat
untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Menurut pendapat saya, semua tergantung kepada
keputusan seperti apa yang diambil,
apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada
murid dalam hal ini tentang
metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan
yang
sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar
dan
pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi
dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila
keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka
kemerdekaan belajar murid
hanya sebuah
omong kosong belaka dan tentunya
murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan
kondratnya.
9. Bagaimana seorang pemimpin
pembelajarandalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Guru sebagai pemimpin
pembelajaran melakukan
pengambilan keputusan yang
memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi
oang-orang yang
merdeka, kreatif , inovatif
dalam mengambil keputusan yang menentukan
bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan
cermat dalam mengambil keputusan-keputusan
penting
bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Keputusan yang berpihak kepada
murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat
akurat dimana
dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar
dan
kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten,
diferensiasi proses dan diferensiasi
produk.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi
ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan
modul-modul
sebelumnya yaitu:
a. Pengambilan keputusan harus berlandaskan kepada filosofi
Ki Hajar Dewantara
yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) Pratap Triloka
memberikan pengaruh
yang besar dalam mengambil
keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran.
b. Pengambilan keputusan
harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada
lingkungan yang positif, kondusif,
aman dan nyaman
(well being).
c. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh
(mindfullness) untuk
menghantarkan muridnya menuju profil
pelajar Pancasila.
d. Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah
dilema etika, hal ini dikarenakan pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar siswanya serta mengelola
kapasitas sosial dan emosionalnya
dalam pengambilan
keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran.
e. Dalam
koneksi materi pengambilan keputusan dengan keterampilan
coaching, di sini coach harus
memiliki keterampilan
menggali kemampuan orang lain dalam
memecahkan suatu masalah yang dihadapi coachee. Keterampilan
coaching
tersebuat diantaranya
yaitu: mampu memberikan pertanyaan yang berbobot, memiliki pembawaan yang positif,
kemampuan mendengarkan dan memotivasi,
bisa memandu percakapan, berkomitmen untuk terus belajar.
Pendekatan coaching sistem among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA
yang merupakan kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA:
Tanggung jawab.
f. Kasus yang ditemui oleh pendidik tentunya
kebanyakan adalah dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan
analisa
4 paradigma, 3 prinsip dan panduan sembilan langkah pengambilan
dan
pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan
suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak
kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di
modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma
pengambilan
keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian
keputusan.
Adakah hal-hal
yang
menurut
Anda
di luar dugaan?
Berikut pemahaman
saya tentang
modul 3.1:
Dilema etika sendiri merupakan dua keputusan yang sama-sama benar sedangkan bujukan moral adalah dua keputusan dimasa salah satunya adalah keputusan yang salah. Jadi jelas
bahwa dilema etika benar lawan benar sedangkan bujukan moral keputusan yang benar
lawan
salah.
Tentu seringkali guru menemui atau menghadapi situasi dimana
harus mengambil keputusan yang di situ terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama
memiliki nilai kebenaran, namun saling bertentangan. Dalam modul ini sangat jelas bahwa sesulit apapun keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu berpatokan dengan
3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan
universal, dan bertanggung jawab terhadap
segala
konsekuensi dari keputusan yang
diambil.
Secara
umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti
di bawah ini:
1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
2. Rasa keadilan
lawan
rasa kasihan
(justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty)
4. Jangka pendek
lawan jangka panjang (short
term vs long term)
Seorang guru sebagaim pemimpin pembelajaran juga
dapat menganalisis 3 prinsip
atau pendekatan dalam pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika, serta menilai
dirinya memiliki kecenderungan menggunakan prinsip yang mana pada saat pengambilan keputusan. Ketiga prinsip tersebut adalah:
a. Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking)
b. Berpikir
Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking)
c. Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Suatu pengambilan keputusan, walaupun
telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-
nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada
akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan
yang kita ambil didasarkan pada
rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta
berpihak pada
murid. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru juga harus memastikan bahwa
keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena
itu,
perlu dilakukan pengujian
untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan. Ada 9 tahapaan pengambilan
dan pengujian keputusan yaitu
sbb:
a.
Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan b.
Menentukan siapa yang terlibat
dalam situasi ini
c. Mengumpulkan
fakta-fakta yang
relevan dalam
situasi
ini
d. Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)
e.
Pengujian paradigma benar
atau salah f. Prinsip pengambilan keputusan
g.
Investigasi trilemma
h. Buat
keputusan
i. Meninjau
kembali keputusan dan refleksikan
Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ketika saya mengambil suatu keputusan saya hanya
berpikir benar-salah, untung-rugi saja.
Ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya mengambil sesuai pemikiran saya
saja
namun perlu melihat
4 paradigma, 3 prinsip
dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Karena selama
ini saya cukup menyelesaikan semua kasus dengan musyawarah lalu mufakat dan memiliki
resiko paling kecil.
12. Sebelum
mempelajari modul ini,
pernahkah Anda
menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana
pernah, apa
bedanya
dengan apa
yang
Anda pelajari di modul
ini?
Sebelum mempelajari modul 3.1, saya banyak menjumpai kasus dilema etika dan bujukan
moral. Saya langsung
memutuskan semua kasus tanpa melakukan pengujian terlebih
dahulu. Semua keputusan hanya
didasarkan pada intuisi saya, nilai-nilai saya, dan pertimbangan
saya terhadap
orang
lain. Jadi saat mempelajari modul 3.1, saya merasa
bahwa pemikiran berbasis rasa
peduli atau care based thinking adalah prinsip yang digunakan dalam pengambilan
keputusan, terutama
yang berkaitan dengan dilema
etika. Dalam kasus dilema etika
bahkan sering berakibat lingkungan kurang kondusif karena
saya mengambil keputusan tanpa pengujian, kadang saya juga menggunakan uji panutan
atau idola. Prosedur
pengambilan
keputusan saya tidak sama
persis dengan konsep yang saya pelajari dalam modul, tetapi ada kesamaan. Ini berarti menganalisis unsur kebenaran
lawan salah dan uji panutan dan
idola.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi
pada
cara
Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah
mengikuti
pembelajaran modul
ini?
Setelah saya
mempelajari modul 3.1, saya menjadi lebih mantap, yakin dan percaya
diri dalam mengambil keputusan terkait kasus dilema
etika, terutama
sebagai pemimpin
pembelajaran. Setelah melalui proses analisa paradigma
dan prinsip pengambilan keputusan serta pengujian keputusan melalui sembilan langkah ini,
saya merasa lebih percaya diri karena saya tahu keputusan saya benar dan efektif. Sehingga
dengan melakukan tahapan yang tepat akan meminimalisir dampak negatif terhadap pengambilan
keputusan yang telah saya ambil karena
telah melalui tahapan yang seharusnya. Keputusan yang saya ambil juga
saya usahakan berpihak pada
murid. Segala
keputusan yang saya ambil kini lebih berdampak positif terhadap lingkungan sehingga lingkungan nyaman, aman dan kondusif. Melalui 9 langkah pengujian dalam pengambilan keputusan,
saya merasa semua Langkah tertata dan terbantu dalam setiap penyelesaian kasus dilema etika yang saya hadapi.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu
dan
Anda sebagai seorang pemimpin?
Jika ditanya seberapa
penting, maka
saya
jawab sangat penting. Hal ini dikarenakan modul
3.1 ini snagat membantu saya dalam pengambilan keputusan pada kasus dilema etika. Secara individu sebagai guru ataupun
sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, kini saya dapat membuat keputusan yang benar dan efektif serta menghindari pengambilan keputusan yang ceroboh atau merugikan orang banyak. Sebelum saya
mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan, saya merasa bahwa
banyak hal dan keputusan yang saya
buat tidak didasarkan pada cara berpikir yang jelas dan terstruktur. Akan tetapi sekarang saya lebih terbantu dalam membuat keputusan yang
tepat. Sekarang saya lebih percaya
diri memutuskan segala kasus baik dilema etika
dan bujukan moral dengan menggunakan sembilan langkah pengambilan
keputusan. Saya semakin percaya diri dalam membuat keputusan yang tepat. Saya akan segera mengimplementasikan keterampilan
membuat keputusan sesuai modul 3.1 dan
menerapkan pengetahuan yang
diperoleh akan membutuhkan
lebih banyak latihan dan pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar